FARIS (Fajrul Islam) ADVENTURE



Here we go... FARIS ADVENTURE!!!

Perjalanan dengan tronton dari Kampus D Universitas Gunadarma saya lakukan bersama teman-teman dari UKM Fajrul Islam (FARIS). Perjalanan ini kami namakan dengan FARIS ADVENTURE.

Hari itu Jum’at 18 April 2014. Kami berangkat beranggotakan 30 orang yang terdiri dari ikhwan dan akhwat. Perjalanan panjang yang kami lalui hingga sampailah kami di tempat tujuan yaitu Gunung Putri, karena pendakian yang akan kami lakukan ke Gunung Gede dimulai dari sana. Sesampainya disana,  hari sudah malam. Malam itu kami memutuskan untuk menginap disebuah penginapan yang biasa digunakan para pendaki. Malam yang begitu dingin hingga rasanya tidak bisa menahan tubuh yang semakin menggigil padahal kami sudah menggunakan dua jaket tebal.
Pagi tiba, kami bagun dan udara dingin yang dahsyat segera menyerang tubuh. Sebelum mendaki, kami sarapan dengan perbekalan yang kami bawa dan setelah itu kami bersiap untuk briefing pembagian kelompok dan berdo’a. Setelah persiapan selesai, kami pun melapor ke tempat perizinan pendakian.
Ini pertama kalinya saya mendaki gunung dan memang saya sadari sepenuhnya, mendaki gunung itu beresiko tinggi dan sangat dekat dengan marabahaya. Itulah sebabnya ketika saya hendak mendaki gunung saya selalu niat baik dalam hati, berdoa minta perlindungan pada Allah dan berhati-hati.


Kami semua berkumpul mengabadikan foto, berdoa dan kemudian bergerak. Langkah kaki pertama mulai menapaki jalur awal pendakian Gunung Gede. Jalur masih datar, rasa lelah belum terasa hingga tak lama kemudian kami sampai di Pos 1. Di sana kami berhenti sejenak, maklum kelompok ini terdapat akhwat-akhwat yang masih pemula. Setelah cukup, kami segera berjalan terus sampai POS 2. Pos demi pos kami lewati, sampai akhirnya entah sudah berada di pos berapa dan medan sudah banyak menanjak, sementara perut sudah mulai lapar karena ini sudah lewat dari jam makan siang. Hawa dingin mulai terasa disini. Jaket tebal dan sarung tangan pun segera saya kenakan untuk menghalau dingin ini. Sembari makan siang dengan lauk alakadarnya.
Disela-sela peristirahatan, kami selalu menyempatkan diri untuk tilawah. Bagaimanapun keadaannya, kami mempunyai target tilawah masing-masing minimal 1 juz perhari. Meski terlihat aneh, tapi inilah kami. 



Untuk mencapai target, kami tidak boleh istirahat terlalu lama. Hari sudah siang dan kami mengejar waktu agar bisa shalat ja’ma dzuhur dan ashar di Surya Kencana. Selain itu juga kami takut bila berhenti terlalu lama malah akan terkena hipotermia karena di ketinggian ini semakin dingin. Kami harus tetap bergerak agar suhu tubuh tetap stabil.
Semakin lama medannya berupa tanjakan terjal berpasir dan berbatu. Sangat sulit berjalan di medan seperti ini. Tenaga saya sudah terkuras habis disini, saya hampir saja putus asa dan merasa tidak saggup lagi melanjutkan perjalanan ini. Di hadapan saya banyak pendaki-pendaki yang menyapa saya, mereka menyemangati untuk sampai ke puncak. Saya tekadkan lagi berjalan menuju puncak. Saya mengubah strategi, berjalan perlahan namun pasti. Dalam artian berjalan dengan langkah pendek agar tidak terlalu banyak menghabiskan tenaga, namun tetap bergerak. Tapi tetap saja, tenaga saya memang sudah terkuras habis. Kaki ini terasa sagat berat untuk dilangkahkan. Namun tekad sudah saya tetapkan, harus terus mendorong batas kemampuan sampai puncak. Satu pikiran yang membuat saya semangat waktu itu adalah, akan berdiri di Puncak Gunung Gede untuk pertama kali.
Pos demi pos terlewati dengan penuh perjuangan. Entah sudah berapa coklat dan madu kami habiskan untuk menambah tenaga. Terlintas dalam pikiran kami “mana puncaknya? Sudah berapa jam kita berjalan tapi belum sampai juga.” Kami hitung sudah berapa pos yang telah kami lewati, begitu bahagianya kami bahwa kami sudah berada di pos-pos akhir.
Jalan terasa seperti lorong yang tak kunjung terlihat ujungnya. Para pendaki yang akan turun bagitu menyemangati dan selalu berkata “ayo semangat, sedikit lagi sampai Surya Kencana.” Surya kencana, tempat yang menghipnotis mata kami. Hamparan edelweis dan kabut yang menyelimuti begitu indah. Sungguh sempurna lukisan alam dihadapan kami ini. Segera kami beristirahat selagi menunggu kelompok yang belum sampai. Tak lupa kami juga mengabadikan momen indah ini dengan berfoto.







Setelah semua kelompok sampai, kamipun membuat tenda untuk tidur malam ini. Kami berencana untuk berangkat menuju ke puncak sebelum subuh agar bisa melihat sunrise di puncak gunung. Kondisi tempat kami berkemah sedang ada kabut yang begitu tebal, khawatir akan turun hujan dan badai kami pun memutuskan untuk berpindah tempat ke yang lebih aman.
Malam yang indah, kami memasak untuk makan malam ditemani dengan taburan bintang. MasyaAllah, begitu indah ciptaan-Mu ini.. kami berharap suatu hari nanti masih bisa melakukan perjalanan seperti ini lagi.
Tepat pukul 04.00 kami bersiap untuk pergi ke puncak. Kami harus mengisi perut terlebih dahulu dengan makanan dan minuman hangat agar tidak terkena hipotemia. Kami berjalan dan terus berjalan. Setelah melalui perjuagan panjang ada para pendaki yang baru turun dari puncak yang mengatakan puncak sudah di depan mata. Perkataan itu membuat semangat kami bangkit lagi. Segera kami percepat langkah dan tibalah disuatu dataran yang tidak lebar, inilah dia puncak Gunung Gede !!!
Alhamdulillah, Allahu akbar!!! itulah kata pertama yang keluar dari mulut saya ketika sampai di puncak. Segera saya berlari menuju kawan-kawan saya dan memeluk mereka satu persatu. Akan tetapi hal pertama yang kami lakukan adalah shalat subuh terlebih dahulu. Segera kami mencari tempat yang bisa dijadikan tempat shalat dan menggunakan embun di dedaunan untuk berwudhu karena kami tidak menemukan air. Setelah shalat subuh, kamipun foto-foto.










Komentar