Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

sebuah perjuangan

Hari ini ibu pergi menghadiri rapat orangtua siswa di sekolahku. Maklumlah aku sudah menjadi siswa kelas 3. jam 07.00 Ibu memintaku memakaikan kerudung "pink", dengan telaten kupakaikan dan ... "wow, ternyata ibuku ini cantik juga ya kalau berdandan rapi hehehe," celotehku. "ah kamu dek, bikin Ibu malu aja." jawabnya sambil tertawa. tepat pukul 08.30 Ibu berpamitan untuk berangkat. Dirumah tinggal aku dan Bapak, karena adik pergi sekolah dan kakak kerja. Sedangkan aku libur karena hari senin sudah mulai ujian semester. Aku mandi, makan, lalu segera membersihkan rumah. setelah itu aku gunakan waktu luangku untuk mempelajari karya tulis yang akan aku ujikan setelah semesteran nanti. "huft bosan rasanya." kemudian kubuka internet untuk sekedar online dan browsing. Tak sengaja ku buka profil orang-orang sukses yang banyak kita kenal sekarang ini. "Mungkinkah aku bisa seperti mereka?" ku baca satu persatu profil mereka, latar...

MESIR, KAMI SELALU BERSAMAMU - RELLA RESTUATI

Telah terjadi apa yang sudah tersirat Apakah tidak engkau lihat? Betapa banyak kerusakan yang teramat sangat Hingga dunia terasa kiamat Disini... Di bumi para Nabi Bagai tak ada tempat berdiri Disini... Di tanah para Nabi tlah terkotori Oleh manusia tak berhati Tragedi kemanusiaan paling besar dalam sejarah mesir hingga hari ini Bergejolak panas di negeri sendiri Jerit tangis mengalir sendu Luka, darah bersatu padu Berceceran hingga membeku Manusia keji itu menghancurkan negeri nabi-nabiku Mereka diserang dengan peluru hidup Perkampungan mereka di bakar Kudeta terus meraja tanpa mengindahkan persaudaraan Demi memuaskan jiwa keserakahan Adakah satu jiwa yang merasa saudara Terpanggil tuk selamatkan mereka? Adakah tangan yang merasa satu tubuh Terulur tuk tangis mereka yang tak terseka? Mana? Dimana? Siapa? Adakah kau tahu, Disana mereka berjuang hanya bersenjatakan keimanan Hanya Al-Qur'an dalam genggaman Akankah kita hanya diam? Mari kita buat ba...

Ini cerita SWI ku, apa ceritamu?

Ini cerita SWI ku, apa cerita mu? Dibawah jendela kamar, 02 Maret 2013 Ingatan saya kembali pada masa-masa dimana cerita ini masih berbentuk potongan-potongan kisah tak beraturan, yang ternyata dalam perjalanannya untuk menjadi sebuah kisah utuh, saya tidak bisa sendirian (cieilaaah hihii). Baiklah, to the point aja deh yaa J . Eitsss jangan lupa baca basmallah dulu, oke ;) “Bismillahirrahmanirrahiim” 25 Februari 2013, tepat pukul 05.30 WIB saya berangkat dari rumah (Bogor) menuju kampus Universitas Gunadarma. (Ngapain? Kan kuliah masih libur), tentu aja buat ikut SWI (Studi Wisata Islam) yang diselenggarakan oleh LDK Fajrul Islam di villa Gema Insani, Puncak Bogor yang dimulai pada tanggal 25-27 Februari 2013  :) . Dalam perjalanan ke kampus banyak sekali kejadian yang harus saya lewati, maklum lah dengan dua kali naik angkot dan naik kereta pada hari senin pagi -,- wow penuh perjuangan,   mulai dari jalan kaki ke pangkalan angkot, angkot yang ngetem lama...

Antara Tuhan dan Aku

perjalanan hidup sungguh misteri siapa yang tahu bahkan aku sendiri tak mengerti roda hidup membawaku pada kebimbangan tak pernah ku temui jalan keabadia selalu saja ada batas dan ujung yang menghalang setiap aku ingin kembali pada-Mu aku lelah Tuhan... aku ingin kembali pada apa yang telah Engkau gariskan tapi aku selalu tak punya keberanian untuk bangkit dan berdiri berlari mendekati-Mu andai aku mampu berjalan dibawah pengawasan-Mu tentu aku tak mudah jatuh dan terpuruk dalam hati aku memohon pada-Mu.. Tuhan.. beri aku kekuatan dan kesempatan untuk mencintai-Mu lebih dari segalanya agar tak terulang dosa dan penghianatan yang menguburku dari Kehadiran-Mu..

terimakasih umi..

Gambar
akhirnya pertanyaan ku pun terjawab.. "mi, kenapa engkau tak pernah menyuruhku mengerjakan pekerjaan rumah yg berat? untuk mencuci pun engkau sering mencegahku, dan kau sering mengatakan "dek, ga usah nanti kamu capek." ketika aku membantumu menyetrika baju engkau selalu mengatakan "dek, setrika baju yg kecil-kecil aja." ketika aku mengangkat air panas engkau mengatakan "dek, hati-hati biar umi saja yang angkat." kemudian, kenapa malah bapak yang turun tangan menggantikanmu ketika engkau sakit? padahal ada aku yang notabenenya sebagai anak perempuanmu yang sudah besar?" air mata pun tak bisa terbendung ketika aku mendengar jawabanmu. "dek, dari kecil umi sama bapak selalu memanjakanmu. Jangankan untuk melakukan pekerjaan yg berat, ikut lomba lari saat peringatan 17an saja kami tak mengijinkan kamu. ketika kamu kecil saja, kamu tidur selalu kami temani. Umi yang mengelus-elus kamu dan bapak yang mengipasimu. sekarang saat ...