sebuah perjuangan
Hari ini ibu pergi menghadiri rapat orangtua siswa di sekolahku. Maklumlah aku sudah menjadi siswa kelas 3.
jam 07.00 Ibu memintaku memakaikan kerudung "pink", dengan telaten kupakaikan dan ..."wow, ternyata ibuku ini cantik juga ya kalau berdandan rapi hehehe," celotehku.
"ah kamu dek, bikin Ibu malu aja." jawabnya sambil tertawa.
tepat pukul 08.30 Ibu berpamitan untuk berangkat.
Dirumah tinggal aku dan Bapak, karena adik pergi sekolah dan kakak kerja. Sedangkan aku libur karena hari senin sudah mulai ujian semester.
Aku mandi, makan, lalu segera membersihkan rumah. setelah itu aku gunakan waktu luangku untuk mempelajari karya tulis yang akan aku ujikan setelah semesteran nanti.
"huft bosan rasanya."
kemudian kubuka internet untuk sekedar online dan browsing. Tak sengaja ku buka profil orang-orang sukses yang banyak kita kenal sekarang ini.
"Mungkinkah aku bisa seperti mereka?"
ku baca satu persatu profil mereka, latar belakang perjalanan mereka, ternyata mereka berawal dari keluarga yang tak sepenuhnya mampu. Aku mulai terpacu dan termotivasi. Ku bulatkan tekatku untuk menggapai semua cita dan harapanku. bukan... bukan hanya harapanku, tapi harapan ibu, bapak, semua keluargaku.
Aku HARUS BISA, yaa AKU PASTI BISA !!! Tentunya dengan doa, kerja keras, dan yang pasti atas izin Allah SWT.
Tap.. tap..tappp ..
suara sandal terdengar dihalaman depan rumah.
"mungkin itu ibu", pikirku.
Beberapa saat kemudian benarlah, muncul sosok wanita yang aku cintai didunia ini dengan baju dan kerudung berwarna pink masuk kedalam rumah.
"Tadi apa aja yang didiskusiin bu?"
wajah ibu berubah, aku tak tau apa penyebabnya.
"dek, nanti disekolah bakal ada bimbingan belajar, kita harus sediain uang 3oo ribu." Ibu memberitahuku dengan wajah yang sedih.
Aku terkejut karena sebelumnya aku tak tau mengenai hal itu.
Ibu tiba-tiba meneteskan air mata, sehingga aku pun tak kuasa melihatnya.
Ibu mengatakan padaku, Ibu begitu sedih ketika beliau duduk diantara orangtua murid yang dominannya orang-orang "tajir" (hehehe gaul dikit). Apalagi setelah tau hampir semua murid dikelasku mengikuti bimbel diluar sekolah, sedangkan aku hanya belajar dirumah secara otodidak tanpa ada yang mendampingi, bahkan tanpa buku paket yang beberapa tak bisa beliau belikan untukku.
tanpa aku sadari, kini aku berlinang air mata.
sunnguh aku tak tega melihat ibu, walau aku pun sering merasakan apa yang ibu rasakan saat ini.
'Cengeng' ya hehehe
"Ibu pengen banget liat dede pake toga, lulus sarjana, bawa adik kamu menjadi orang sukses, bahagiain ibu dan bapak yang sudah renta. Ibu pengen dede bisa berhasil, merubah kehidupan keluarga kita." kata ibu lirih.
aku hanya bisa menangis, menangis tanpa ada kata yang sempat aku katakan. Bukan karena aku tak mau menjawab, hanya saja aku tak bisa menahan piluku yang membuat aku terbata.
Yang tak bisa ku tahan lagi yaitu ketika ibu meminta maaf kepadaku karena beliau tak bisa seperti orangtua lain yang mampu berikan segala kebutuhanku. Seharusnya bukan beliaulah yang meminta maaf, tapi aku.. Aku anak yang belum bisa memberikan kebahagiaan dan kebanggaan untuknya. Hati begitu teriris, menahan kepedihan hidup yang kadang kala harus aku perjuangkan sendiri. Tanpa orang tau betapa aku membutuhkan mereka.
Ku peluk erat sosok yang berada tepat dihadapanku, dan ku katakan ....
"Bu, doakan aku agar bisa mewujudkan segala inginmu..
karena doamu adalah ridho Ilahi yang bisa merubah segalanya."
"HARI INI AKU MENANGIS UNTUK KETIDAKBERDAYAANKU TAPI SUATU SAAT AKU AKAN MENANGIS UNTUK KESUKSESANKU !!!!!!
Bismillah :)
Komentar
Posting Komentar