Untukmu Tuan
Saat gelap malam menyapa, seorang lelaki menemukan sebuah surat yang ditujukkan padanya.
Untukmu,
Sebuah tulisan untuk membuat jeda pada untaian rindu saat ini
yang selalu kelu untuk keluar dari lidahku
sisa waktu yang masih kumiliki
memang sungguh sedemikian sulit untuk meneguhkan diri pada keadaannya yang paling baik
pun sungguh sangat sulit untuk terus menerus tegar
tatkala mimpi yang terukir mesti dihapuskan
entah sementara atau selamanya
masih ku ingat
sebuah tekad yang entah berasal dari mana
sebuah keberanian memutuskan masa depan
apa itu yang disebut dengan nafsu?
memutuskan tanpa berpikir panjang,
apakah sanggup atau tidak?
Aku, dengan mimpi yang kubuat sendiri
bersemangat untuk segera mencapainya
sedikit demi sedikit
semangat semakin memburu
karena tak ingin waktu sia-sia saja berlalu
Lalu malam ini sungguh berbanding terbalik
hujan menderas disertai badai dan petir
aku jatuh terduduk
"aku baik-baik saja, tak perlu menangis"
tersenyum, kemudian tersedu
dasar cengeng!
Baiklah, kamu saja bisa selapang itu. Kenapa aku tidak?
tapi izinkan aku menyimpan semua kenangan itu
“Bisa mulai malam ini atau nanti, kita akan sama sekali tak saling peduli. Bukan karena berhenti mengenali, tapi mulai menyadari bahwa itu adalah cara terakhir untuk saling menjaga hati.”
Dan kemudian, aku harus mampu mengatakan:
“Layaknya menghela napas, aku melepaskanmu…"
Komentar
Posting Komentar