Hasil dari Kesabaran

Enam bulan kulewati sebagai pengangguran. Aku yang biasanya jarang dirumah, selepas lulus kuliah justru tidak ada kegiatan apapun. Hanya jum’at dan sabtu aku pergi ke Depok untuk agenda rutinku, selebihnya aku hanya berdiam diri dirumah.

Orang tuaku mulai khawatir tentang diriku. Ya, orang tua mana yang tega melihat anaknya menjadi pengangguran? Bukan, mereka bukan mengharapkan anaknya menghasilkan uang untuk mereka. Mereka hanya ingin anaknya kembali seperti biasa, sibuk dengan hal yang baik.
Sebetulnya aku tidak hanya berdiam diri, aku melamar pekerjaan melalui email, web, ataupun akun-akun yang menyediakan informasi mengenai lapangan pekerjaan. Beberapa kali aku mendapat panggilan untuk tes dan interview. Beberapa kali pula aku harus selalu menanamkan pikiran positif tiap kali aku gagal mendapatkan pekerjaan tersebut. Aku selalu menanamkan pikiran “ah, mungkin itu belum baik untukku. Kalau aku bekerja disana mungkin nanti aku tidak bisa datang liqo, mungkin nanti aku begini, mungkin nanti aku begitu, bla bla bla..”
Alhamdulillah selama ini orangtuaku tidak pernah menuntutku untuk segera bekerja. Mereka selalu memberi dukungan dan doa. Aku pemilih, aku tidak mau sembarangan memilih pekerjaan. Itulah sebabnya aku sulit mendapatkan pekerjaan. Ada kriteria dalam memilih pekerjaan, harus yang tanpa riba, membawa keberkahan, dan tidak mengganggu jadwal liqo. Selama aku mendapat tes dan interview ternyata belum ada yang sesuai dengan kriteria pekerjaan yang aku inginkan itu, hampir semuanya akan mengganggu jadwal liqoku. Aku berpikir mungkin aku tidak diterima dipekerjaan itu karena Allah mendengar doaku dan doa ibuku. Karena disetiap doa kami, kriteria itu selalu kami sebutkan.

Bapak mulai cemas. Tidak tega melihat anaknya yang hampir setiap hari terlihat dirumah. Sampai suatu ketika Bapak mengatakan pada Ummiku agar aku tidak usah mencari pekerjaan yang syariah saja, lamar saja pekerjaan apapun yang penting bekerja. Tapi Ummi hanya menjawab agar Bapak tetap sabar dan percaya pada pilihan anaknya.
Selang beberapa hari aku mendapat telepon dari kantor yang pernah aku datangi untuk tes dan interview. Alhamdulillah beliau mengatakan bahwa aku diterima bekerja disana. Ini memang bukan kantor dengan gedung yang tinggi. Ini hanya sebuah agensi properti syariah di kota kelahiranku. Sesuai dengan doaku, ternyata Allah kabulkan. Aku mendapat pekerjaan berbasis syariah, aku tidak usah bertarung di kereta (karena aku ingin bekerja di Bogor saja), dan alhamdulillah Allah memberiku rezeki gaji dikantor itu diatas harapanku.
Aku semakin percaya bahwa kekuatan sabar, usaha dan doa begitu kuat. Dan kunci utamanya adalah PERCAYA BAHWA ALLAH AKAN MEMBERIKAN YANG TERBAIK BAGI HAMBANYA.

Ketika aku gagal, aku hanya berdoa kepada Allah untuk meminta digantikan dengan yang lebih baik. Dan sekarang Allah memberiku ganti yang lebih baik. Pekerjaan yang membuat aku belajar hal baru, lingkungan yang Islami, atasan yang “Paham” dan sefrekuensi, dan masih banyak lagi.

Bismillah, semoga Allah mudahkan dan lancarkan segala urusanku. Allah berkahi pekerjaanku. Allah nilai aktifitasku sebagai ibadah. Dan Allah mudahkan urusan teman-temanku yang sedang berjuang mencari pekerjaan sepertiku. Aamiin..

Bogor, 05 April 2017
21:20 WIB

Penuh rasa syukur

Komentar